Kamis, 27 Oktober 2011 13:35
KEPANJEN–Menyongsong hari Sumpah Pemuda, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Malang, berunjuk rasa di depan kantor DPRD Kabupaten Malang, kemarin. Mereka menuntut Presiden SBY dan wakilnya Boediono, turun dari jabatannya karena dianggap gagal.
Moch. Mukhlis, Ketua PMII Kabupaten Malang, mengatakan dalam aksi demo ini mereka mengangkat isu nasional dan lokal terkait gagalnya pemerintahan SBY-Boediono. Pertama pemerintahan SBY-Boediono dianggap gagal karena kasus korupsi masih merajalela. Lalu, perbatasan wilayah Indonesia yang masih sering dicaplok (diakui) oleh Malaysia.
“Sedangkan untuk isu lokal, adalah pelayanan Jampersal dan Jamkesmas tidak merata. Masih banyak orang miskin yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan itu,” ungkap Moch. Mukhlis.
Selain mengkritik Pemerintahan SBY-Boediono, mereka juga menganggap bahwa satu tahun kepemimpinan Bupati Malang Rendra Kresna masih belum banyak menghasilkan perubahan. Yakni kepedulian pendidikan di wilayah pedesaan masih minim. Itu dibuktikan dengan masih banyaknya sekolah rusak.
Sementara itu, meski berjalan aman, namun aksi unjuk rasa kemarin sempat terjadi ketegangan antara pendemo dengan aparat kepolisian. Itu terjadi ketika puluhan mahasiswa berusaha menerobos pagar pintu kantor DPRD Kabupaten Malang, yang dijaga oleh puluhan polisi.
Meski sempat saling dorong hingga pagar pintu nyaris roboh, namun akhirnya pendemo bisa tenang. Itu setelah beberapa perwakilan diminta masuk ke dalam gedung untuk bertemu dengan Sekretaris Dewan Irianto. Setelah seluruh aspirasinya disampaikan, pendemo akhirnya membubarkan diri. Namun sebelumnya, mereka terlebih dahulu membakar puluhan poster bertuliskan kritikan yang dibawanya.
Terpisah, Irianto mengatakan terkait pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk fakir miskin, saat ini Pemda sedang menggodoknya. Kemungkinan untuk tahun depan (2012) baru bisa dilaksanakan. “Sedangkan terkait tuntutan Presiden SBY-Boediono turun karena dianggap gagal, akan ditampung yang kemudian aspirasinya itu akan disampaikan kepada Ketua DPRD Kabupaten Malang, yang selanjutnya disampaikan ke pusat,” terang Irianto.(agp/jon)
Jumat, 28 Oktober 2011
AKSI MENYONGSONG 83 TAHUN REFLEKSI SOEMPAH PEMOEDA
Senin, 17 Oktober 2011
Sekilas Sejarah Tentang FILSAFAT
SEJARAH LAHIRNYA FILSAFAT
Oleh: Muzayyidin
“…Bodoh orang yang menyeru untuk sekedar taqlid saja dan mengesampingkan akal secara total. Tertipulah orang yang mencukupkan dirinya dengan akal saja dan mengabaikan cahaya Al Qur’an dan As Sunnah. Anda jangan termasuk ke dalam dua kelompok tadi, tetapi jadilah yang menggabungkan antara akal dan cahaya syara’. Ilmu-ilmu akal bagaikan makanan, sedangkan ilmu-ilmu syara’ bagaikan obatnya…”
(Al Ghazali-1056-1111 M)
Pendahuluan
Tidak diragukan lagi bahwa sejatinya manusia makhluq berpengetahuan dan cenderung berbuat baik.Dengan demikian, manusia adalah satu-satunya makhluq yang paling mulia diantara makhluq Tuhan lainnya, Sebab, Manusia dikarunia mitra kerja yang bernama akal. Dengan akal, manusia mendapatkan segala apa yang diinginkan bahkan untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh semua makhluq hidup yang bermukim dimuka bumi yakni, al-ma’rifah. Tentu semua itu akan didapat hanya dengan ber-filsafat, titik. Namun demikian, Filsafat, sejauh ini memang belum mendapatkan ruang dalam benak seseorang, sehingga kurang begitu diminati bahkan ditinggalkan, khususnya para Mahasiswa, santri, ustad, bahkan kyai. Dengan lain kata, belajar Filsafat hanya dianggap buang-buang waktu dan tidak jarang mendapat sinisme dari khalayak ramai karena dianggap terlalu memikirkan pemikiran para Filosof. Mengapa demikian? karena orientasi dari Filsafat tidak jelas dibandingkan dengan belajar Ilmu pengetahuan yang lain seperti, Ekonomi,Hukum,Kedokteran dan lain sebagainya yang orientasinya lebih menjanjikan.
Akan tetapi, belajar Filsafat, paling tidak dapat mengentaskan kita dari sikap salling menyalahkan dan menyadarkan kita dari adanya perbedaan. karna setiap manusia pasti menginginkan hidup bahagia, saling menghormati, damai dan sejahtera tanpa adanya pertentangan atau sikap acuh tak acuh dari manusia yang lain. Hal itu bisa diperoleh jikalau kita juga saling menghargai satu dengan yang lainnya. Tentunya semua itu dapat diakses melalui belajar Filsafat,titik. Selain itu, Filsafat merupakan cara pandang yang luas dalam berbagai hal, bahkan untuk menempuh hidup yang sempurna (insane kamil).
Dari Mitos Lahirlah Filsafat
Mempelajari Filsafat berarti menyaksikan lahirnya filsafat. Filsafat lahir dikarnakan kemenanangan akal atas mitos yang memberhala dalam masyarakat Yunani. Dalam pada itu, masyarakat yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata, mencari tahu kebenaran tentang mitos-mitos yang menjadi pedoman hidup yang memberi tahu asal-usul segala sesuatu. Kebenaran yang datang dari mitos atau dongeng, hanya dapat dibenarkan oleh iman atau kepercayaan.Sedangkan akal tidak puas dengan kebenaran yang datang dari mitos karena tidak dapat dibuktikan oleh akal.
Pergumulan akal dengan mitos terjadi kira – kira abad ke 6 SM. Pergumulan tersebut terjadi karena akal tidak puas dengan mitos para dewa dan alam semesta yang begitu menggelora. Kepercayaan semacam ini membuat akal budi manusia terkungkung dan tidak dapat mengembangkan pemikiran-pemikirangnya. Namun demikian, lambat-laun kepercayaan masyarakat Yunani—mitos para dewa dan alam semesta—mulai mengalami pergeseran dan tidak mendapat ruang dihati masyarakat yunani. Hal ini disebabkan, kebenaran mitos tak dapat dipertanggung jawabkan dihadapan akal. Dengan kata lain, masyarakat Yunani—walaupun cuma beberapa gelintir oarang—mulai merubah alur permainan dengan mendobrak kebohongan-kebohongan mitos yang berkembang pada saat itu dan menjadikannya logos, rasional berdasarkan akal budi dan pengetahuan. Proses rasionalisasi tersebut tidak terlepas dari banyaknya para pemuda Yunani yang merantau (sekaligus belajar) ke luar Yunani dan pengaruh Imu Pengetahuan yang beerasal dari babylonia yang kemudian dikembangkan secara kreatif.
Nah, dari sini dapat dimengerti bahwa Filsafat lahir dari rahim mitologi para dewa dan alam semesta sekaligus menjadikan logos sebagai kebenaran yang baru. Dari pergumulan tersebut melahirkan orang-orang sakti macam Thales (625-545 SM), Anaximandros (640-546 SM), Socrates (499-399 SM), Plato (427-347SM), Aristoteles (384-322 SM) dan masih banyak orang sakti yang lahir dari mitologi dewa-dewa. Dan satu hal yang dapat diambil dari dari orang-orang yunani, yakni, ‘kritis’ alias mencari kebenaran yang sesungguhnya.
Asal Kata
Kata filsafat berasal dari kata Yunani yakni ; philo (cinta) dan shofia (kebijaksanan), yang artinya cinta kebijaksanaan. Tetapi, arti filsafat secara Etimology belum menunjukkan arti filsafat yang sesungguhnya. Sebab “mencintai” bisa dilakukan secara pasif – mencintai kebijaksanaan tanpa berusaha untuk memperolehnya. Padahal dalam pengertian terminilogisnya seorang yang mencintai kebijaksanaan, yakni Filsuf, berusaha dengan aktif untuk memperolehnya. Dari sini dapat dimengerti bahwa filsafat dititik beratkan terhadap usaha manusia untuk mendapatkan kebijaksanaan bukan sekedar cinta tanpa mau berusaha. Istilah “Filsafat” pertama kali digunakan oleh Phytagoras (572-497 SM), yang kemudian diarabkan menjadi al-falsafah (cinta kebijaksanaan) dan orangnya disebut failasuf. Setelah menjadi perbendaharaan pemikiran Islam, kata Filsafat (Arab; Falsafah) diidentikan atau disepadankan dengan kata al-hikmah. Menurut Asy-syahristani(w.548/1153 M), philoshophia berarti mahabbah al hikmah (cinta pada kebijaksanaan), dan orangnya disebut muhibb al-hikmah (orang yang cinta kebijaksanaan). kata falsafah diidentikan dengan al-hikmah, dilihat dari kesamaan makna.sedangkan kata al-hikmah sering kali dipakai dalam Al-qur’an. Misalnya surat Al-Baqarah ayat 269 dan An-Naml ayat 125. Filsafat (al-hikmah) sendiri terbagi menjadi dua bagian, filsafat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis filsafat menawarkan kebenaran, secara praktis filsafat menawarkan kebaikan. Dengan demikian antara Filsafat dengan al-qur’an tidak bertentangan, bahkan al-qur’an sendiri diberikan kepada makhluk tuhan yang mempunyaai akal, agar dapat dimengerti maksud dari berbagai macam ayat-ayat al-qur’an. lantas mengapa kita enggan menggunakan akal kita (taqlid buta) sebagai mitra kerja yang telah dianugerahkan kepada setian insan.?
Oleh: Muzayyidin
“…Bodoh orang yang menyeru untuk sekedar taqlid saja dan mengesampingkan akal secara total. Tertipulah orang yang mencukupkan dirinya dengan akal saja dan mengabaikan cahaya Al Qur’an dan As Sunnah. Anda jangan termasuk ke dalam dua kelompok tadi, tetapi jadilah yang menggabungkan antara akal dan cahaya syara’. Ilmu-ilmu akal bagaikan makanan, sedangkan ilmu-ilmu syara’ bagaikan obatnya…”
(Al Ghazali-1056-1111 M)
Pendahuluan
Tidak diragukan lagi bahwa sejatinya manusia makhluq berpengetahuan dan cenderung berbuat baik.Dengan demikian, manusia adalah satu-satunya makhluq yang paling mulia diantara makhluq Tuhan lainnya, Sebab, Manusia dikarunia mitra kerja yang bernama akal. Dengan akal, manusia mendapatkan segala apa yang diinginkan bahkan untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh semua makhluq hidup yang bermukim dimuka bumi yakni, al-ma’rifah. Tentu semua itu akan didapat hanya dengan ber-filsafat, titik. Namun demikian, Filsafat, sejauh ini memang belum mendapatkan ruang dalam benak seseorang, sehingga kurang begitu diminati bahkan ditinggalkan, khususnya para Mahasiswa, santri, ustad, bahkan kyai. Dengan lain kata, belajar Filsafat hanya dianggap buang-buang waktu dan tidak jarang mendapat sinisme dari khalayak ramai karena dianggap terlalu memikirkan pemikiran para Filosof. Mengapa demikian? karena orientasi dari Filsafat tidak jelas dibandingkan dengan belajar Ilmu pengetahuan yang lain seperti, Ekonomi,Hukum,Kedokteran dan lain sebagainya yang orientasinya lebih menjanjikan.
Akan tetapi, belajar Filsafat, paling tidak dapat mengentaskan kita dari sikap salling menyalahkan dan menyadarkan kita dari adanya perbedaan. karna setiap manusia pasti menginginkan hidup bahagia, saling menghormati, damai dan sejahtera tanpa adanya pertentangan atau sikap acuh tak acuh dari manusia yang lain. Hal itu bisa diperoleh jikalau kita juga saling menghargai satu dengan yang lainnya. Tentunya semua itu dapat diakses melalui belajar Filsafat,titik. Selain itu, Filsafat merupakan cara pandang yang luas dalam berbagai hal, bahkan untuk menempuh hidup yang sempurna (insane kamil).
Dari Mitos Lahirlah Filsafat
Mempelajari Filsafat berarti menyaksikan lahirnya filsafat. Filsafat lahir dikarnakan kemenanangan akal atas mitos yang memberhala dalam masyarakat Yunani. Dalam pada itu, masyarakat yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata, mencari tahu kebenaran tentang mitos-mitos yang menjadi pedoman hidup yang memberi tahu asal-usul segala sesuatu. Kebenaran yang datang dari mitos atau dongeng, hanya dapat dibenarkan oleh iman atau kepercayaan.Sedangkan akal tidak puas dengan kebenaran yang datang dari mitos karena tidak dapat dibuktikan oleh akal.
Pergumulan akal dengan mitos terjadi kira – kira abad ke 6 SM. Pergumulan tersebut terjadi karena akal tidak puas dengan mitos para dewa dan alam semesta yang begitu menggelora. Kepercayaan semacam ini membuat akal budi manusia terkungkung dan tidak dapat mengembangkan pemikiran-pemikirangnya. Namun demikian, lambat-laun kepercayaan masyarakat Yunani—mitos para dewa dan alam semesta—mulai mengalami pergeseran dan tidak mendapat ruang dihati masyarakat yunani. Hal ini disebabkan, kebenaran mitos tak dapat dipertanggung jawabkan dihadapan akal. Dengan kata lain, masyarakat Yunani—walaupun cuma beberapa gelintir oarang—mulai merubah alur permainan dengan mendobrak kebohongan-kebohongan mitos yang berkembang pada saat itu dan menjadikannya logos, rasional berdasarkan akal budi dan pengetahuan. Proses rasionalisasi tersebut tidak terlepas dari banyaknya para pemuda Yunani yang merantau (sekaligus belajar) ke luar Yunani dan pengaruh Imu Pengetahuan yang beerasal dari babylonia yang kemudian dikembangkan secara kreatif.
Nah, dari sini dapat dimengerti bahwa Filsafat lahir dari rahim mitologi para dewa dan alam semesta sekaligus menjadikan logos sebagai kebenaran yang baru. Dari pergumulan tersebut melahirkan orang-orang sakti macam Thales (625-545 SM), Anaximandros (640-546 SM), Socrates (499-399 SM), Plato (427-347SM), Aristoteles (384-322 SM) dan masih banyak orang sakti yang lahir dari mitologi dewa-dewa. Dan satu hal yang dapat diambil dari dari orang-orang yunani, yakni, ‘kritis’ alias mencari kebenaran yang sesungguhnya.
Asal Kata
Kata filsafat berasal dari kata Yunani yakni ; philo (cinta) dan shofia (kebijaksanan), yang artinya cinta kebijaksanaan. Tetapi, arti filsafat secara Etimology belum menunjukkan arti filsafat yang sesungguhnya. Sebab “mencintai” bisa dilakukan secara pasif – mencintai kebijaksanaan tanpa berusaha untuk memperolehnya. Padahal dalam pengertian terminilogisnya seorang yang mencintai kebijaksanaan, yakni Filsuf, berusaha dengan aktif untuk memperolehnya. Dari sini dapat dimengerti bahwa filsafat dititik beratkan terhadap usaha manusia untuk mendapatkan kebijaksanaan bukan sekedar cinta tanpa mau berusaha. Istilah “Filsafat” pertama kali digunakan oleh Phytagoras (572-497 SM), yang kemudian diarabkan menjadi al-falsafah (cinta kebijaksanaan) dan orangnya disebut failasuf. Setelah menjadi perbendaharaan pemikiran Islam, kata Filsafat (Arab; Falsafah) diidentikan atau disepadankan dengan kata al-hikmah. Menurut Asy-syahristani(w.548/1153 M), philoshophia berarti mahabbah al hikmah (cinta pada kebijaksanaan), dan orangnya disebut muhibb al-hikmah (orang yang cinta kebijaksanaan). kata falsafah diidentikan dengan al-hikmah, dilihat dari kesamaan makna.sedangkan kata al-hikmah sering kali dipakai dalam Al-qur’an. Misalnya surat Al-Baqarah ayat 269 dan An-Naml ayat 125. Filsafat (al-hikmah) sendiri terbagi menjadi dua bagian, filsafat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis filsafat menawarkan kebenaran, secara praktis filsafat menawarkan kebaikan. Dengan demikian antara Filsafat dengan al-qur’an tidak bertentangan, bahkan al-qur’an sendiri diberikan kepada makhluk tuhan yang mempunyaai akal, agar dapat dimengerti maksud dari berbagai macam ayat-ayat al-qur’an. lantas mengapa kita enggan menggunakan akal kita (taqlid buta) sebagai mitra kerja yang telah dianugerahkan kepada setian insan.?
Langganan:
Komentar (Atom)
