Selasa, 14 Juni 2011

ISLAM AGAMA KEMANUSIAAN

Landasan Berfikir
Manusia pada fitrahnya berasal dari satu keturunan yang kita kenal dengan Adam yang diciptakan oleh Tuhan sebagai pengendali alam (Kholifatun Fil’ardl), memang tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia sebagai makhluk individu yang otonom (meskipun bersosial) itu sangat rentan terhadap perbedaan, baik sekedar perbedaan sudut pandang, ataupun keyakinan. Memang perbedaan (yang merupakan dampak dari kebebasan) merupakan fitrah manusia yang harus kita junjung tinggi dalam kehidupan, namun lain dari hal itu, perbedaan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kalangan masyarakat karena sangat rawan dengan perbedaan itu akan timbul suatu perpecahan.
Kalau kita mengingat kembali peristiwa arbitrase yang dilakukan kelompok Muawiyah terhadap kelompok Ali yang mengakibatkan perpecahan besar-besaran dalam tubuh Islam (sunniy, syi’ah, dan khawarij), yang disebabkan oleh latar belakang politik (perebutan kekuasaan), juga konflik antara KH. Abdur Rahman Wahid (ketika menjabat ketua umum PBNU) dengan Soeharto (presiden Repulik Indonesia masa orde baru) yang mengakibatkan perpecahan dalam tubuh NU dengan adanya Muktamar dan NU tandingan yang dimainkan oleh Abu Hasan, itu sekedar contoh sebuah perbedaan sudut pandang yang berakibat terpecahnya tatanan social.
Menanggapi perbedaan yang mempunyai banyak kemungkinan terhadap perpecahan dalam tatanan sosial, seorang nomor wahid di sisi Tuhan, yakni Nabi Muhammad SAW (sebagai seorang yang diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya) pun angkat bicara lewat sabda beliau yaitu Ikhtilafu Ummatiy Rahmatun, bahwasanya perbedaan yang ada pada masyarakat merupakan rahmat yang memiliki nilai plus yang tersembunyi, namun nyata.
Landasan Ideologis
Dalam Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadits) terdapat beberapa ungkapan dan aturan tentang kehidupan sosial contoh ayat innamal mu’minuna ikhwatun faashlihu baina akhawaykum dan hablum minallah wahablum minan-nas yang keduanya mewanti-wanti kita untuk selalu menjaga perdamaian sesama muslim, bahkan dengan sesama manusia secara universal, ada lagi dalam kitab hadits Arba’in Nawawi hadits ke tuju belas yang memberi kita arahan agar selalu rukun dengan tetangga, dan banyak lagi ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang menyeru kepada kita untuk selalu menjaga perdamaian dan persatuan sesama manusia.
Indonesia yang merupakan Negara yang sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, dan persatuan serta kesatuan Negara, lewat sila ke tiganya “persatuan Indonesia” menghimbau kepada rakyatnya untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia).
Dari ke dua ideology tersebut (Islam – Indonesia) nampaklah jelas, bahwa tidak ada alasan dan landasan ideology manapun untuk bersikap tempramental dan saling memusuhi satu dengan yang lain, karena pada hakikatnya, kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang dalam perspektif sosial untuk saling melengkapi dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Islam Menjaga Keutuhan Sosial
Setidaknya hadits (dalam lid) di atas menjadi rujukan berfikir kita tentang kehidupan beragama, bahwa Islampun tidak tinggal diam terhadap masalah perpecahan yang dialami oleh masyarakat (tanpa menghilangkan kebebasan dalam perbedaan). Di sini Nabi Muhammad SAW menganalogikan masyarakat sebagai sebuah bangunan rumah, gedung, atau sejenisnya yang di sana terdapat perabotan-perabotan kasar (misalnya: tiang, pondasi, atap, dan lain sebagainya) yang itu saling menguatkan, dalam artian manusia meskipun berbeda profesi, semisal tani, pedagang, polisi, politisi, dan lain-lain itu saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Kalau kita seorang gila bola, tentunya kita melihat di sana pasti terorganisir dengan rapi mulai dari penjaga gawang, gelandang sampai striker. Sehebat apapun Moh. Nuh Alamsyah (pemain AREMA asal Singapura) tidak akan berkutik meskipun sekedar melawan tim Kampung seperti ARSUS (Salah satu tim sepak bola di desa Sumberjaya) tanpa adanya kerja sama tim yang solid, Kurnia Mega memang penjaga gawang kebanggaan AREMA yang jarang sekali kebobolan bola lawan, namun sehandal apapun dia, tidak akan mungkin bisa mencetak gol sebagaimana Alamsyah. Sekaya apapun seorang kontraktor dan pemilik modal tidak akan bisa apa-apa tanpa hadirnya serta sumbangsih tenaga dari para buruh.
Pada intinya, dari paparan di atas, setidaknya ada dua hal yang perlu kita perhatikan, pertama, dalam kehidupan bermasyarakat, tidak ada alasan bagi kita untuk berpecah-belah antara satu dengan yang lain dengan kata lain menjaga persatuan, bahkan Negara Indonesia mampu memproklamirkan diri pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai Negara merdeka yang harus diakui oleh kalangan international, karena, selain semangat perjuangan dan nasionalisme yang tinggi, juga adanya rasa kesatuan dan persatuan di antara para pahlawan, sehingga ada pepatah yang mengatakan “bersatu kita tegu bercerai kita runtuh”, karena pada dasarnya manusia hidup di dunia yang fana dan serba singkat ini saling membutuhkan antar sesama, bahkan dengan lingkungan. Kedua, manusia yang merupakan makhluk social yang tidak bisa berdiri dan hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain di sisinya, maka kesombongan yang melekat pada diri manusia merupakan kesalahan yang sangat fatal, karena sekaya apapun pengusaha sukses, namun masih membutuhkan para petani kampung untuk makan sesuap nasi, padahal tanpa kita sadari ada Dzat yang super power Sang Causaprima yang tidak membutuhkan apapun dan kepada siapapun.