Jumat, 28 Oktober 2011

AKSI MENYONGSONG 83 TAHUN REFLEKSI SOEMPAH PEMOEDA

Kamis, 27 Oktober 2011 13:35


KEPANJEN–Menyongsong hari Sumpah Pemuda, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Malang, berunjuk rasa di depan kantor DPRD Kabupaten Malang, kemarin. Mereka menuntut Presiden SBY dan wakilnya Boediono, turun dari jabatannya karena dianggap gagal.
Moch. Mukhlis, Ketua PMII Kabupaten Malang, mengatakan dalam aksi demo ini mereka mengangkat isu nasional dan lokal terkait gagalnya pemerintahan SBY-Boediono. Pertama pemerintahan SBY-Boediono dianggap gagal karena kasus korupsi masih merajalela. Lalu, perbatasan wilayah Indonesia yang masih sering dicaplok (diakui) oleh Malaysia.
“Sedangkan untuk isu lokal, adalah pelayanan Jampersal dan Jamkesmas tidak merata. Masih banyak orang miskin yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan itu,” ungkap Moch. Mukhlis.
Selain mengkritik Pemerintahan SBY-Boediono, mereka juga menganggap bahwa satu tahun kepemimpinan Bupati Malang Rendra Kresna masih belum banyak menghasilkan perubahan. Yakni kepedulian pendidikan di wilayah pedesaan masih minim. Itu dibuktikan dengan masih banyaknya sekolah rusak.
Sementara itu, meski berjalan aman, namun aksi unjuk rasa kemarin sempat terjadi ketegangan antara pendemo dengan aparat kepolisian. Itu terjadi ketika puluhan mahasiswa berusaha menerobos pagar pintu kantor DPRD Kabupaten Malang, yang dijaga oleh puluhan polisi.
Meski sempat saling dorong hingga pagar pintu nyaris roboh, namun akhirnya pendemo bisa tenang. Itu setelah beberapa perwakilan diminta masuk ke dalam gedung untuk bertemu dengan Sekretaris Dewan Irianto. Setelah seluruh aspirasinya disampaikan, pendemo akhirnya membubarkan diri. Namun sebelumnya, mereka terlebih dahulu membakar puluhan poster bertuliskan kritikan yang dibawanya.
Terpisah, Irianto mengatakan terkait pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk fakir miskin, saat ini Pemda sedang menggodoknya. Kemungkinan untuk tahun depan (2012) baru bisa dilaksanakan. “Sedangkan terkait tuntutan Presiden SBY-Boediono turun karena dianggap gagal, akan ditampung yang kemudian aspirasinya itu akan disampaikan kepada Ketua DPRD Kabupaten Malang, yang selanjutnya disampaikan ke pusat,” terang Irianto.(agp/jon)

Senin, 17 Oktober 2011

Sekilas Sejarah Tentang FILSAFAT

SEJARAH LAHIRNYA FILSAFAT
Oleh: Muzayyidin

“…Bodoh orang yang menyeru untuk sekedar taqlid saja dan mengesampingkan akal secara total. Tertipulah orang yang mencukupkan dirinya dengan akal saja dan mengabaikan cahaya Al Qur’an dan As Sunnah. Anda jangan termasuk ke dalam dua kelompok tadi, tetapi jadilah yang menggabungkan antara akal dan cahaya syara’. Ilmu-ilmu akal bagaikan makanan, sedangkan ilmu-ilmu syara’ bagaikan obatnya…”
(Al Ghazali-1056-1111 M)

Pendahuluan
Tidak diragukan lagi bahwa sejatinya manusia makhluq berpengetahuan dan cenderung berbuat baik.Dengan demikian, manusia adalah satu-satunya makhluq yang paling mulia diantara makhluq Tuhan lainnya, Sebab, Manusia dikarunia mitra kerja yang bernama akal. Dengan akal, manusia mendapatkan segala apa yang diinginkan bahkan untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh semua makhluq hidup yang bermukim dimuka bumi yakni, al-ma’rifah. Tentu semua itu akan didapat hanya dengan ber-filsafat, titik. Namun demikian, Filsafat, sejauh ini memang belum mendapatkan ruang dalam benak seseorang, sehingga kurang begitu diminati bahkan ditinggalkan, khususnya para Mahasiswa, santri, ustad, bahkan kyai. Dengan lain kata, belajar Filsafat hanya dianggap buang-buang waktu dan tidak jarang mendapat sinisme dari khalayak ramai karena dianggap terlalu memikirkan pemikiran para Filosof. Mengapa demikian? karena orientasi dari Filsafat tidak jelas dibandingkan dengan belajar Ilmu pengetahuan yang lain seperti, Ekonomi,Hukum,Kedokteran dan lain sebagainya yang orientasinya lebih menjanjikan.
Akan tetapi, belajar Filsafat, paling tidak dapat mengentaskan kita dari sikap salling menyalahkan dan menyadarkan kita dari adanya perbedaan. karna setiap manusia pasti menginginkan hidup bahagia, saling menghormati, damai dan sejahtera tanpa adanya pertentangan atau sikap acuh tak acuh dari manusia yang lain. Hal itu bisa diperoleh jikalau kita juga saling menghargai satu dengan yang lainnya. Tentunya semua itu dapat diakses melalui belajar Filsafat,titik. Selain itu, Filsafat merupakan cara pandang yang luas dalam berbagai hal, bahkan untuk menempuh hidup yang sempurna (insane kamil).

Dari Mitos Lahirlah Filsafat
Mempelajari Filsafat berarti menyaksikan lahirnya filsafat. Filsafat lahir dikarnakan kemenanangan akal atas mitos yang memberhala dalam masyarakat Yunani. Dalam pada itu, masyarakat yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata, mencari tahu kebenaran tentang mitos-mitos yang menjadi pedoman hidup yang memberi tahu asal-usul segala sesuatu. Kebenaran yang datang dari mitos atau dongeng, hanya dapat dibenarkan oleh iman atau kepercayaan.Sedangkan akal tidak puas dengan kebenaran yang datang dari mitos karena tidak dapat dibuktikan oleh akal.
Pergumulan akal dengan mitos terjadi kira – kira abad ke 6 SM. Pergumulan tersebut terjadi karena akal tidak puas dengan mitos para dewa dan alam semesta yang begitu menggelora. Kepercayaan semacam ini membuat akal budi manusia terkungkung dan tidak dapat mengembangkan pemikiran-pemikirangnya. Namun demikian, lambat-laun kepercayaan masyarakat Yunani—mitos para dewa dan alam semesta—mulai mengalami pergeseran dan tidak mendapat ruang dihati masyarakat yunani. Hal ini disebabkan, kebenaran mitos tak dapat dipertanggung jawabkan dihadapan akal. Dengan kata lain, masyarakat Yunani—walaupun cuma beberapa gelintir oarang—mulai merubah alur permainan dengan mendobrak kebohongan-kebohongan mitos yang berkembang pada saat itu dan menjadikannya logos, rasional berdasarkan akal budi dan pengetahuan. Proses rasionalisasi tersebut tidak terlepas dari banyaknya para pemuda Yunani yang merantau (sekaligus belajar) ke luar Yunani dan pengaruh Imu Pengetahuan yang beerasal dari babylonia yang kemudian dikembangkan secara kreatif.
Nah, dari sini dapat dimengerti bahwa Filsafat lahir dari rahim mitologi para dewa dan alam semesta sekaligus menjadikan logos sebagai kebenaran yang baru. Dari pergumulan tersebut melahirkan orang-orang sakti macam Thales (625-545 SM), Anaximandros (640-546 SM), Socrates (499-399 SM), Plato (427-347SM), Aristoteles (384-322 SM) dan masih banyak orang sakti yang lahir dari mitologi dewa-dewa. Dan satu hal yang dapat diambil dari dari orang-orang yunani, yakni, ‘kritis’ alias mencari kebenaran yang sesungguhnya.

Asal Kata
Kata filsafat berasal dari kata Yunani yakni ; philo (cinta) dan shofia (kebijaksanan), yang artinya cinta kebijaksanaan. Tetapi, arti filsafat secara Etimology belum menunjukkan arti filsafat yang sesungguhnya. Sebab “mencintai” bisa dilakukan secara pasif – mencintai kebijaksanaan tanpa berusaha untuk memperolehnya. Padahal dalam pengertian terminilogisnya seorang yang mencintai kebijaksanaan, yakni Filsuf, berusaha dengan aktif untuk memperolehnya. Dari sini dapat dimengerti bahwa filsafat dititik beratkan terhadap usaha manusia untuk mendapatkan kebijaksanaan bukan sekedar cinta tanpa mau berusaha. Istilah “Filsafat” pertama kali digunakan oleh Phytagoras (572-497 SM), yang kemudian diarabkan menjadi al-falsafah (cinta kebijaksanaan) dan orangnya disebut failasuf. Setelah menjadi perbendaharaan pemikiran Islam, kata Filsafat (Arab; Falsafah) diidentikan atau disepadankan dengan kata al-hikmah. Menurut Asy-syahristani(w.548/1153 M), philoshophia berarti mahabbah al hikmah (cinta pada kebijaksanaan), dan orangnya disebut muhibb al-hikmah (orang yang cinta kebijaksanaan). kata falsafah diidentikan dengan al-hikmah, dilihat dari kesamaan makna.sedangkan kata al-hikmah sering kali dipakai dalam Al-qur’an. Misalnya surat Al-Baqarah ayat 269 dan An-Naml ayat 125. Filsafat (al-hikmah) sendiri terbagi menjadi dua bagian, filsafat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis filsafat menawarkan kebenaran, secara praktis filsafat menawarkan kebaikan. Dengan demikian antara Filsafat dengan al-qur’an tidak bertentangan, bahkan al-qur’an sendiri diberikan kepada makhluk tuhan yang mempunyaai akal, agar dapat dimengerti maksud dari berbagai macam ayat-ayat al-qur’an. lantas mengapa kita enggan menggunakan akal kita (taqlid buta) sebagai mitra kerja yang telah dianugerahkan kepada setian insan.?

Jumat, 16 September 2011

Selamat & Sukses Konferensi Cabang NU Kabupaten Malang 2011

Kepanjen, Penyelenggaraan Konfercab NU Kabupaten Malang sudah semakin dekat. Momentum untuk mensolidkan gerakan ummat adalah momentum yang sangat tepat dalam pelaksanaan Konferensi kali ini. Setelah warga NU di sibukkan dan mengalami masa-masa yang 'melelahkan" hanya dalam urusan politik. Semoga konferensi kali ini benar-benar membawa berkah bagi seluruh warga Nahdliyin.
Menurut Masruri Mahali yang juga panitia penyelenggara konferensi,mengatakan bahwa harapannya agar hasil-hasil keputusan konferensi nantinya untuk lima tahun kedepan lebih mngedepankan kerja-kerja ke-ummatan (pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya)sehingga NU benar-benar pelindung ummat dengan berlandasakan nilai-nilai Ahlussunah Waljama'ah, ujar mantan ketua umum pmii kabupaten malang ini.
Pada konferensi kali ini dipenuhi wajah-wajah muda yang meramaikan bursa kandidat ketua baik syuriah maupun tanfidziyah, dari hasil penelusuran bahwa bermunculan nama-nama lama dan baru seperti Abdul Mujib Syadzili, Khafid Fanani, Abdul Holik, Sugeng, Sibaweh, Saiful Efendi, Bibit Suprapto, Nur Qomari, Solihin Mahfudz, K. Farihin, K. Mad, K. Mansyur, Nur Sodiq Askandar, K. Mustain, dll.

Selasa, 14 Juni 2011

ISLAM AGAMA KEMANUSIAAN

Landasan Berfikir
Manusia pada fitrahnya berasal dari satu keturunan yang kita kenal dengan Adam yang diciptakan oleh Tuhan sebagai pengendali alam (Kholifatun Fil’ardl), memang tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia sebagai makhluk individu yang otonom (meskipun bersosial) itu sangat rentan terhadap perbedaan, baik sekedar perbedaan sudut pandang, ataupun keyakinan. Memang perbedaan (yang merupakan dampak dari kebebasan) merupakan fitrah manusia yang harus kita junjung tinggi dalam kehidupan, namun lain dari hal itu, perbedaan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kalangan masyarakat karena sangat rawan dengan perbedaan itu akan timbul suatu perpecahan.
Kalau kita mengingat kembali peristiwa arbitrase yang dilakukan kelompok Muawiyah terhadap kelompok Ali yang mengakibatkan perpecahan besar-besaran dalam tubuh Islam (sunniy, syi’ah, dan khawarij), yang disebabkan oleh latar belakang politik (perebutan kekuasaan), juga konflik antara KH. Abdur Rahman Wahid (ketika menjabat ketua umum PBNU) dengan Soeharto (presiden Repulik Indonesia masa orde baru) yang mengakibatkan perpecahan dalam tubuh NU dengan adanya Muktamar dan NU tandingan yang dimainkan oleh Abu Hasan, itu sekedar contoh sebuah perbedaan sudut pandang yang berakibat terpecahnya tatanan social.
Menanggapi perbedaan yang mempunyai banyak kemungkinan terhadap perpecahan dalam tatanan sosial, seorang nomor wahid di sisi Tuhan, yakni Nabi Muhammad SAW (sebagai seorang yang diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya) pun angkat bicara lewat sabda beliau yaitu Ikhtilafu Ummatiy Rahmatun, bahwasanya perbedaan yang ada pada masyarakat merupakan rahmat yang memiliki nilai plus yang tersembunyi, namun nyata.
Landasan Ideologis
Dalam Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadits) terdapat beberapa ungkapan dan aturan tentang kehidupan sosial contoh ayat innamal mu’minuna ikhwatun faashlihu baina akhawaykum dan hablum minallah wahablum minan-nas yang keduanya mewanti-wanti kita untuk selalu menjaga perdamaian sesama muslim, bahkan dengan sesama manusia secara universal, ada lagi dalam kitab hadits Arba’in Nawawi hadits ke tuju belas yang memberi kita arahan agar selalu rukun dengan tetangga, dan banyak lagi ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang menyeru kepada kita untuk selalu menjaga perdamaian dan persatuan sesama manusia.
Indonesia yang merupakan Negara yang sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, dan persatuan serta kesatuan Negara, lewat sila ke tiganya “persatuan Indonesia” menghimbau kepada rakyatnya untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia).
Dari ke dua ideology tersebut (Islam – Indonesia) nampaklah jelas, bahwa tidak ada alasan dan landasan ideology manapun untuk bersikap tempramental dan saling memusuhi satu dengan yang lain, karena pada hakikatnya, kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang dalam perspektif sosial untuk saling melengkapi dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Islam Menjaga Keutuhan Sosial
Setidaknya hadits (dalam lid) di atas menjadi rujukan berfikir kita tentang kehidupan beragama, bahwa Islampun tidak tinggal diam terhadap masalah perpecahan yang dialami oleh masyarakat (tanpa menghilangkan kebebasan dalam perbedaan). Di sini Nabi Muhammad SAW menganalogikan masyarakat sebagai sebuah bangunan rumah, gedung, atau sejenisnya yang di sana terdapat perabotan-perabotan kasar (misalnya: tiang, pondasi, atap, dan lain sebagainya) yang itu saling menguatkan, dalam artian manusia meskipun berbeda profesi, semisal tani, pedagang, polisi, politisi, dan lain-lain itu saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Kalau kita seorang gila bola, tentunya kita melihat di sana pasti terorganisir dengan rapi mulai dari penjaga gawang, gelandang sampai striker. Sehebat apapun Moh. Nuh Alamsyah (pemain AREMA asal Singapura) tidak akan berkutik meskipun sekedar melawan tim Kampung seperti ARSUS (Salah satu tim sepak bola di desa Sumberjaya) tanpa adanya kerja sama tim yang solid, Kurnia Mega memang penjaga gawang kebanggaan AREMA yang jarang sekali kebobolan bola lawan, namun sehandal apapun dia, tidak akan mungkin bisa mencetak gol sebagaimana Alamsyah. Sekaya apapun seorang kontraktor dan pemilik modal tidak akan bisa apa-apa tanpa hadirnya serta sumbangsih tenaga dari para buruh.
Pada intinya, dari paparan di atas, setidaknya ada dua hal yang perlu kita perhatikan, pertama, dalam kehidupan bermasyarakat, tidak ada alasan bagi kita untuk berpecah-belah antara satu dengan yang lain dengan kata lain menjaga persatuan, bahkan Negara Indonesia mampu memproklamirkan diri pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai Negara merdeka yang harus diakui oleh kalangan international, karena, selain semangat perjuangan dan nasionalisme yang tinggi, juga adanya rasa kesatuan dan persatuan di antara para pahlawan, sehingga ada pepatah yang mengatakan “bersatu kita tegu bercerai kita runtuh”, karena pada dasarnya manusia hidup di dunia yang fana dan serba singkat ini saling membutuhkan antar sesama, bahkan dengan lingkungan. Kedua, manusia yang merupakan makhluk social yang tidak bisa berdiri dan hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain di sisinya, maka kesombongan yang melekat pada diri manusia merupakan kesalahan yang sangat fatal, karena sekaya apapun pengusaha sukses, namun masih membutuhkan para petani kampung untuk makan sesuap nasi, padahal tanpa kita sadari ada Dzat yang super power Sang Causaprima yang tidak membutuhkan apapun dan kepada siapapun.

Rabu, 18 Mei 2011

PMII DAN KAPITALISME GLOBAL: MELAWAN ATAU MENERIMA

Awal Abad 21, diawali fenomena, menurut fukuyama- kemenangan demokrasi liberal (absolute liberation). Kemenangan ini, diwarnai dengan diterimanya konsep pasar bebas (market liberalism)dengan adagium wold trade organizationoleh hamper Negara di seluruh dunia. Cina yang sebelumnya menolak, kini sudah melunakdan menerima konsp tersebut. Artinya, pasar benar-benar terbuka, bebas, dan tanpa celah untuk distorsi oleh pihak manapun temasuk Negara.
Diperkirakan, sekitar tahun 2020 merupakan puncak kemenangan demokrasi liberal. Memang pad awal tahun itulah yang dicanangkan WTO. Sehingga arus barang dari barat dengan bebas masuk kewilayah timur, tanpa ada beban bead an pngutan mauk lainnya, begitu pula sebaliknya barang dari timur boleh masuk ke wilayah barat dengan bebas juga. Manakah yang lebih unggul?
Lantas bagaimana PMII menyikapi fenomena seperti itu.PMII harus menyikapi hal itu dengan kritis fenomena globalisasi dank pitalisme global, karena PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang konsen terhadap agenda demokratisasi dan civil society. Jikalau PMII harus dan hanya menerima bearti PMII akan hanyut dn terjebak menjadi agen penyebaran nilai kepentingan jaringan kapitalisme global. Manakal PMII harus dan hanya melawanbearti mengingkari keniscayaan masyarakat dunia, dan menjadi terasing denngan dunia internasional atau masyarakat global.
Dari argumen inilah PMII harus bersikap moderat yakni menerima sekaligus melawan fenomena tersebut. PMII harus menerima globalisasi karma harus bergaul dan beriteraksi dengan masyarakat global. Dari sisi lain PMII juga harus mmpunyai komitmen demokratisasi, pemberdayaan masyarakat melalui konsep civil society, keadilan dan nilai-nilai lainnya yang sudah lama inheren dalam PMII. Karena itu, PMII juga harus melawan hegemonic kapitalisme global, dengan mempersiapkan perangkat instrukmental sumber daya manusia yang tidak hanya kompetetif, tetapi skaligus juga liberatif.
Manakala kader PMII sumber daya yang kompetetif dan mempunyai visi ideologi yang bertendensi keadilan, dan anti hegemonic, maka cita – cita equel society akan terwujud. Karena itu, perlawanan kita (PMII) bukan dengan menolak namun dengan penguatan masyarakat kita dan menggairahkan tumbuhnya produksi budaya dan ekonomi local yang kopetetif.
Untuk menjawab itu semua, dimna PMII adalah tidak lain organisasi independent yang lahir dari rahim NU dan notabenya kaum pesantren dan pemuda nahdliyin selalu menyikapi apa yang akan dihadapi demi masa depan ummat, bangsa dan agama. Dan kita mengetahui bahwa sebagian dari kita adalah pemuda nahdliyin yang dipersiapkan untuk menghadapi zaman yang akan datang. Namun akankah hal itu mampu bagi kita untuk mengahadapinya, sedang kita tidak peduli terhadap perubahan zaman. Padahal sebagai pemuda nahdliyin kita berharap mampu untuk mengarungi setiap perubahan zaman, dimana kita mau tidak mau ikut dan pasti terlibat dalam arus zaman. Kalau bukan kita yang saat ini, lalu siapa yang akan mempertahankan dan melanjutkan perjuangan yang telah menjadi tanggung jawab kita sebagai kaum nahdliyin dan warga Negara Indonesia.
Dari itu, jikalau kita mampu mari kita bersama bergerak dan berjuang.
Dan jika kita tdak mampu mari kita belajar bersama.
Kejayaan dapat diraih bukan karna dia hebat tapi dengan kebersamaan terdapat kekuatan yang akan memperolah kejayaan.
(Al Jama’atu Rahmatun Wal Furqatu ‘Adzabun)

Senin, 16 Mei 2011

MENGUSAI KECERDASAN EMOSI (EQ)

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."
(Aristoteles, The Nicomachean Ethics)

Mampu menguasai emosi, seringkali orang menganggap remeh pada masalah ini. Padahal, kecerdasan otak saja tidak cukup menghantarkan seseorang mencapai kesuksesan. Justru, pengendalian emosi yang baik menjadi faktor penting penentu kesuksesan hidup seseorang.
Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran mental dari seseorang yang cerdas dalam menganalisa, merencanakan dan menyelesaikan masalah, mulai dari yang ringan hingga kompleks. Dengan kecerdasan ini, seseorang bias memahami, mengenal, dan memilihkualitas mereka sebagai insan manusia. Orang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak.
Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari tentang kebahagiaan, mencintai dan berinteraksi dengan sesamanya. Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan bertanggung jawab dalam segala hal yang terjadi dalam hidupnya sebagai bukti tingginya kecerdasan emosi yang dimilikinya. Kecerdasan emosi lebih terfokus pada pencapaian kesuksesan hidup yang tidak tampak.
Kesuksesan bisa tercapai ketika seseorang bisa membuat kesepakatan dengan melibatkan emosi, perasaan dan interaksi dengan sesamanya. Terbukti, pencapaian kesuksesan secara materi tidak menjamin kepuasan hati seseorang.
Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang juga dikenal dengan sebutan "EQ"), dikenalkan melalui pasar dunia. Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk interaksi lebih dibutuhkan daripada kecerdasan otak (IQ) seseorang.
Kecerdasan Emosi memberikan seseorang keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan pada seseorang untuk berani menghadapi ketakutan.
Tidak sama halnya seperti kecerdasan otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir pada setiap org & bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara mengasah kecerdasan emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.
Latihan dan berani mencoba hal-hal baru akan memberikan beragam pengalaman dan membuka pikiran dengan berbagai kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam segala hal.
Ini akan menjadi jalan untuk bias mendapatkan kepercayaan orang lain danmengendalikan kita untuk tidak mudah menyerah. "being accountable is being dependable"

3. Berani keluar dari zona nyaman.
Mencoba keluar dari zona nyaman akan membuat kita bisa mengeksplorasi banyak hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya.
Melakukan hal ini akan membangun rasa percaya diri dan dapat menjadi jaminan bahwa segala sesuatu pasti ada solusinya.

5. Bersikap rendah hati.
Mau mengakui kesalahan dalam hidup justru dapat meningkatkan harga diri kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi Karena mengendalikan emosi merupakan salah satu faktor penting yang bisa mengendalikan seseorang menuju sukses dan juga menikmati warna-warni kehidupan.

Selasa, 19 April 2011

KNPI Bakal Dapat Hibah Rp. 500 Juta

(www.malangkab.go.id)Bupati Rendra Kresna menegaskan,pengalokasian dana APBD 2011 untuk KNPI ini adalah bentuk komitmen Pemkab untuk memajukan bidang kepemudaan. "Kita berkomitmen untuk memajukan bidang kepemudaan. Sebab generasi muda ini yang akan meneruskan tongkat estafet pembangunan," jelasnya. Menyinggung soal dana tersebut, Rendra yakin, mekanisme pengelolaan dana hibah lebih mudah dibanding dengan pola bantuan. "Dana tersebut akan lebih mudah dikelola sendiri oleh KNPI jika polanya Hibah. Dana ini nantinya diperuntukkan bagi DPD dan OKP (Organisasi Kepemudaan) yang ada di Kabupaten Malang. Asal penggunaannya sesuai dengan proposal yang diajukan, saya rasa tidak ada masalah,tapi kalau tidak sesuai peruntukannya,pasti nanti berhadapan dengan BPK," tegasnya di depan 32 tokoh OKP dan pengurus DPD KNPI Kab. Malang. Ketua DPD KNPI Kab. Malang, Khoirul Anam mengatakan jika dana ini menjadi sangat berarti untuk menggerakkan berbagai kegiatan pemuda di KNPI maupun OKP.”Bupati kita ini sangat mengerti kebutuhan pemuda dan memang memiliki tekad untuk memajukan pemuda Indonesia,” katanya sambil memuji. Anam menambahkan, tahun 2011 ini KNPI akan melaksanakan pembinaan pemuda kader pembangunan desa. “Mereka akan dilatih sehingga memiliki kapasitas dan kapabilitas turut aktif melaksanakan pembangunan,” katanya. (Humas/Ali SM)