Awal Abad 21, diawali fenomena, menurut fukuyama- kemenangan demokrasi liberal (absolute liberation). Kemenangan ini, diwarnai dengan diterimanya konsep pasar bebas (market liberalism)dengan adagium wold trade organizationoleh hamper Negara di seluruh dunia. Cina yang sebelumnya menolak, kini sudah melunakdan menerima konsp tersebut. Artinya, pasar benar-benar terbuka, bebas, dan tanpa celah untuk distorsi oleh pihak manapun temasuk Negara.
Diperkirakan, sekitar tahun 2020 merupakan puncak kemenangan demokrasi liberal. Memang pad awal tahun itulah yang dicanangkan WTO. Sehingga arus barang dari barat dengan bebas masuk kewilayah timur, tanpa ada beban bead an pngutan mauk lainnya, begitu pula sebaliknya barang dari timur boleh masuk ke wilayah barat dengan bebas juga. Manakah yang lebih unggul?
Lantas bagaimana PMII menyikapi fenomena seperti itu.PMII harus menyikapi hal itu dengan kritis fenomena globalisasi dank pitalisme global, karena PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang konsen terhadap agenda demokratisasi dan civil society. Jikalau PMII harus dan hanya menerima bearti PMII akan hanyut dn terjebak menjadi agen penyebaran nilai kepentingan jaringan kapitalisme global. Manakal PMII harus dan hanya melawanbearti mengingkari keniscayaan masyarakat dunia, dan menjadi terasing denngan dunia internasional atau masyarakat global.
Dari argumen inilah PMII harus bersikap moderat yakni menerima sekaligus melawan fenomena tersebut. PMII harus menerima globalisasi karma harus bergaul dan beriteraksi dengan masyarakat global. Dari sisi lain PMII juga harus mmpunyai komitmen demokratisasi, pemberdayaan masyarakat melalui konsep civil society, keadilan dan nilai-nilai lainnya yang sudah lama inheren dalam PMII. Karena itu, PMII juga harus melawan hegemonic kapitalisme global, dengan mempersiapkan perangkat instrukmental sumber daya manusia yang tidak hanya kompetetif, tetapi skaligus juga liberatif.
Manakala kader PMII sumber daya yang kompetetif dan mempunyai visi ideologi yang bertendensi keadilan, dan anti hegemonic, maka cita – cita equel society akan terwujud. Karena itu, perlawanan kita (PMII) bukan dengan menolak namun dengan penguatan masyarakat kita dan menggairahkan tumbuhnya produksi budaya dan ekonomi local yang kopetetif.
Untuk menjawab itu semua, dimna PMII adalah tidak lain organisasi independent yang lahir dari rahim NU dan notabenya kaum pesantren dan pemuda nahdliyin selalu menyikapi apa yang akan dihadapi demi masa depan ummat, bangsa dan agama. Dan kita mengetahui bahwa sebagian dari kita adalah pemuda nahdliyin yang dipersiapkan untuk menghadapi zaman yang akan datang. Namun akankah hal itu mampu bagi kita untuk mengahadapinya, sedang kita tidak peduli terhadap perubahan zaman. Padahal sebagai pemuda nahdliyin kita berharap mampu untuk mengarungi setiap perubahan zaman, dimana kita mau tidak mau ikut dan pasti terlibat dalam arus zaman. Kalau bukan kita yang saat ini, lalu siapa yang akan mempertahankan dan melanjutkan perjuangan yang telah menjadi tanggung jawab kita sebagai kaum nahdliyin dan warga Negara Indonesia.
Dari itu, jikalau kita mampu mari kita bersama bergerak dan berjuang.
Dan jika kita tdak mampu mari kita belajar bersama.
Kejayaan dapat diraih bukan karna dia hebat tapi dengan kebersamaan terdapat kekuatan yang akan memperolah kejayaan.
(Al Jama’atu Rahmatun Wal Furqatu ‘Adzabun)
Terus berkarya sahabat....!
BalasHapusNegeri ini menunggu amal baktimu...!
Salam KOMPERSA selalu...